Zorro Khan

Demam (sudut pandang patofis)

In ILMU dasar medis!! on 22/06/2009 at 06:45

Tujuan dari pengaturan suhu adalah mempertahankan suhu inti tubuh agar tetep pada “set level” sekitar 37 derajat celcius (dengan variasi diurnal/variasi keadaan disiang hari). Perlu dibedakan dengan keadaan hipertermia pasif yang set level meningkat ketika demam (akan dibahas edisi selanjutnya insyaAlloh). Oleh karena itu, dalam keadaan ini mekanisme pengaturan suhu berperan untuk mempertahankan suhu yang meningkat.

Hal ini tampak jelas ketika “demam meningkat”, karena nilai sebenarnya menyimpang dari set level yang tiba-tiba meningkat, pengeluaran panas akan dikurangi melalui “penurunan aliran darah ke kulit” sehingga kulit menjadi dingin (perasaan dingin). Selain itu, produksi panas juga meningkat karena meningkat karena menggigil (tremor). Keadaan ini berlangsung terus sampai “nilai sebenarnya” mendekati “set level” yang baru. Bila “demam turun”, sekali lagi “set level” akan turun sehingga sekarang “nilai sebenarnya” yang menjadi terlalu tinggi. Pada keadaan ini, aliran darah ke kulit meningkat sehingga orang tersebut akan merasa kepanasan dan mengeluarkan keringat yang banyak.

Demam terutama biasa terjadi pada infeksi sebagai reaksi yang cepat (reaksi fase akut). Pada keadaan ini, zat yang menimbulkan demam (pirogen) menyebabkan perubahan pada “set point”. “Pirogen eksogen” merupakan bagian dari pathogen, diantaranya yang paling efektif adalah kompleks lipopolisakarida (endotoksin/ racun dalam dinding sel bakteri) bakteri gram negatif. Pathogen atau pirogen seperti itu di opsonisasi (diselubungi/diikat agar mudah dimakan/difagosit) oleh komplemen dan difagosit/ dimakan oleh makrofag (seperti “sel kupffer” di hati. Proses ini melepaskan “sitokin”, di antaranya “pirogen endogen” interleukin 1 alpha, 1 betha, 6, 8 dan 11, interferon alpha dua, dan gama, “tumor necrosis factor TNF alpha (kahektin) dan TNF betha (limfotoksin), “macrophage-inflammatory protein MIP 1,dll. Sitokin ini diduga mencapai organ “sirkumventrikular” otak yang tidak memiliki sawar darah otak. Oleh karena itu, sitokin dapat menyebabkan reaksi demam pada organ-organ ini atau yang berdekatan dengan “area preoptik” dan “organ vaskulosa lamina terminalis” (OVLT) melalui prostaglandin PGE2. Obat penurun panas (antipiretik) bekerja secara efektif di daerah ini. Jadi, asam asetilsalisilat (parasetamol), misalnya, menghambat enzim yang membentuk PGE2 dari asam arakhidonat (siklooksigenase 1 dan 2).

Setelah penyuntikan lipopolisakarida secara intravena, sitokin yang telah disebutkan di atas baru ditemuka dalam waktu 30 menit setelah onset demam dan munculnya sitokin dapat dihambat melalui vagotomi (pemutusan impuls yang dibawa nervus vagus/10) subdiafragma. Tampaknya, “pirogen eksogen” merangsang area preoptik dan OVLT juga melalui “serabut aferen” dari abdomen. Terdapat kemungkinan bahwa zat pembawa sinyal yang dilepaskan oleh sel Kupffer di hati (sitokin? PGE2?) merangsang serabut yang dekat dengan saraf aferen vagus, yang kemudian menjalarkan sinyal pirogen melalui nukleus solitarius ke kelompok sel noradrenalin A1 dan A2. Selanjutnya, sinyal ini berproyeksi dari traktus noradrenalin ventral ke neuron yang mengatur demam di area preoptik dan OVLT. Noradrenalin yang dilepaskan di daerah tersebut menimbulkan pembentukan PGE2 dan mengakibatkan demam. Proses ini juga melepaskan adiuterin (ADH; efek reseptor V1), alpha-melanocyte-stimulating hormone (alpha-MSH), dan corticotrophin-releasing hormone corticoliberin (CRH), yang mengatasi demam dengan membentuk antipiretik endogen melalui jalur umpan-balik negatif.

Akibat yang ditimbulkan oleh demam adalah peningkatan “frekuensi denyut jantung” dan “metabolisme energi”. Hal ini menimbulkan rasa lemah, nyeri sendi, dan sakit kepala, “peningkatan gelombang tidur lambat” (yang berperan dalam perbaikan fungsi otak), dan pada keadaan tersebut bisa menimbulkan gangguan kesadaran dan persepsi (delirium karena demam) serta kejang demam pada anak.

Kegunaan Demam adalah mungkin terdapat dalam hubungannya untuk mengatasi infeksi. Peningkatan suhu akan menghambat pertumbuhan beberapa pathogen, bahkan membunuh seagian yang lainnya. Selain itu, konsentrasi logam dasar di plasma –seperti besi, seng, tembaga- yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri dapat dikurangi. Selanjutnya, sel yang rusak karena virus juga dimusnahkan sehingga replikasi virus dihambat. Karena alasan ini, sebaiknya antipiretik hanya digunakan bila demam menyebabkan “kejang demam” –biasanya pada bayi dan anak-anak- atau bila demamnya sangat tinggi (>39 drajat celcius) sehingga dikhawatirkan terjadi demam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: