Zorro Khan

Hipertermia, Trauma Panas (patofis)

In ILMU dasar medis!! on 23/06/2009 at 08:14

Pada aktivitas fisik yang berat (pembentukan panas tubuh meningkat) dan/atau lingkungan yang panas, mekanisme pengaturan suhu pada organisme menjadi sangat terbebani, terutama bila disertai kekurangan cairan dan kelembapan udara yang tinggi. Berlawanan dengan keadaan demam, pada hipertermia suhu inti tubuh tidak dapat lagi dipertahankan pada set level 37 drajatC. Saat berdiri, vasodilatasi (pembuluh darah melebar) menyebabkan sebagian darah tertimbun di kaki dan volume ekstrasel menjadi berkurang karena berkeringat. Akibatnya, curah jantung dan tekanan darah menurun, terutama karena vasodilatasi pada kulit akan mengurangi resistensi (tahanan) pembuluh darah perifer. Bahkan, pada suhu inti dibawah 39 drajatC dapat terjadi perasaan lemas, pusing, mual dan kehilangan kesadaran akibat “penurunan tekanan darah” (heat collapse). Posisi berbaring dan pemberian cairan dapat meningkatkan kembali tekanan darah.

Keadaan yang lebih berbahaya adalah bila suhu inti tubuh mencapai 40,5 drajatC karena pada suhu tersebut otak sudah tidak dapat lagi menoleransinya. Sebagai perlindungan dari “heat stroke/hilang kesadaran”, untuk sementara otak dapat dipertahankan menjadi lebih dingin daripada bagian lain dari tubuh karena suhu inti yang meningkat menyebabkan pengeluaran keringat yang hebat di kepala (bahkan dengan dehidrasi), terutama pada wajah. Darah yang mengalami pendinginan melalui cara ini mencapai sistem vena endokranial dan sinus kavernosus, yang akan menurunkan suhu pada arteri di sekitarnya. Hal ini tampaknya merupakan satu-satunya penjelasan terhadap fakta bahwa pada pelari maraton yang mengalami peningkatan suhu inti samapi 41,9 drajatC dalam waktu yang singkat tidak terkena “heat stroke”.

Bila terjadi peningkatan suhu inti dalam waktu yang lama antara 40,5 dan 43 drajatC, “pusat pengatur suhu” di otak tengah akan gagal dan pengeluaran keringat pun terhenti. Akibatnya, terjadi disorientasi, sikap apatis (cuek ngga sengaja), dan kehilangan kesadaran (heat stroke). “edema otak” yang disertai dengan kerusakan sistem saraf pusat tanpa pertolongan yang cepat bisa menimbulkan kematian. Risiko terutama terdapat pada anak-anak karena perbandingan luas permukaan dengan massa tubuhnya lebih besar dibandingkan orang dewasa, dan pada anak juga hanya sedikit produksi keringat. “pengobatan heat stroke” dapat dilakukan dengan membawa pasien ke lingkungan yang lebih dingin dan/atau berendam di air dingin. Tetapi permukaan tubuh tidak boleh terlalu dingin karena dapat menyebabkan vasokonstriksi yang memperlambat penurunan suhu inti. Bahkan, pengobatan “heat stroke” yang berhasil dapat meninggalkan kerusakan menetap pada pusat pengaturan tubuh. Hal tersebut membuat toleransi terhadap suhu lingkungan yang ekstrem menjadi terbatas di masa mendatang.

“Hipertermia maligna” dapat menyebabkan kematian, akibat defek genetik yang heterogenpada transport Ca di sarkoplasma, dengan mempengaruhi kanal pelepas Ca (reseptor rianodin). Beberapa obat anestesi inhalasi (halotan, enfluran, isofluran) dan pelemas otot depolarisasi (suksametonium klorida) menimbulkan pelepasan Ca yang tiba-tiba dan berlebihan dari reticulum sarkoplasma sehingga terjadi konstraksi otot menyeluruh dan tidak terkoordinasi, dengan pemakaian O2 yang sangat tinggi dan pembentukan panas yang luar biasa. Akibatnya, terjadi asidosis, hiperkalemia, takikardia, aritmia dan hipertermia yang meningkat secara cepat. Bila dikenali secara cepat, hipertermia maligna dapat diobati dengan baik melalui penghentian obat anestesi dan/atau pelemas otot, dan disertai pemberian “dantrolen” sehingga menghambat pelepasan Ca pada sel otot lurik, serta mendinginkan tubuh.

“Heat cramps” terjadi bila orang mengerjakan kerja fisik yang berat pada suhu lingkungan yang sangat tinggi (misalnya, pada pandai besi). Jika hanya air yang hilang dan bukan garam, masih dapat digantikan.

“Sun Stroke” perlu dibedakan dari hipertermia karena terjadi akibat radiasi sinar matahari yang langsung mengenai kepala dan leher. Keadaan ini menyebabkan mual, pusing, sakit kepala hebat, hyperemia otak serta meningitis serosa dan dapat berakhir dengan kematian.
Kontak atau radiasi panas dapat menyebabkan luka bakar derajat 1, 2 dan 3 (secara berurutan timbul kemerahan, bula, atau nekrosis) pada kulit. Sengatan sinar matahari yang sering dan hebat juga meningkatkan resiko melanoma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: