Zorro Khan

Obesitas, Gangguan Makan (patofis)

In ILMU dasar medis!! on 26/06/2009 at 22:03

Beberapa jalur pengaturan yang diduga berperan dalam pengaturan berat badan masing-masing diatur hipotalamus. Misalnya, nukleus ventromedial menjadi “pusat kenyang” dan hipotalamus lateral menjadi “pusat makan”. Siklus pengaturan yang mungkin menentukan dalam jangka waktu lama adalah “mekanisme lipostasis”: massa lemak tubuh diketahui berdasarkan zat yang dihasilkan oleh sel lemak (kemungkinan leptin), dan jalur umpan-balik mempertahankan agar massa lemak selalu konstan selama terjadi perubahan selera makan dan aktivitas fisik. Jadi, lemak akan dengan cepat digantikan kembali bila dilakukan pengangkatanlemak selama operasi

Obesitas (adipositas, berat badan berlebih) merupakan faktor risiko hipertensi, diabetes melitus tipe II, hiperlipidemia, aterosklerosis, serta batu ginjal dan batu empedu. Lebih dari 40% obesitas berhubungan dengan peningkatan risiko mengalami kematian lebih dini sebesar dua kali lipat. Obesitas sebagian didasari (poli) genetik, sebagian lagi dipengaruhi lingkungan. Penyebabnya masih sedikit yang diketahui. Telah ditemukan dua gen yang rusak, salah satunya terdapat pada strain dua tikus jantan dengan obesitas yang ekstrim, dan satu lagi pada diabetes tipe II. Bila gen obesitas rusak, protein leptin 16-kDa yang dikode oleh gen obesitas tidak akan ditemukan dalam plasma. Penyuntikan leptin pada tikus dengan mutasi obesitas homozigot dapat mengatasi gejala yang timbul akibat gen yang rusak. Sementara penyuntikan pada tikus normal menyebabkan tikus kehilangan beratnya. Tetapi jika gen obesitas bermutasi, reseptor leptin di hipotalamus (di antaranya nukleus arkuatus) menjadi rusak. Meskipun konsentrasi leptin yang bersirkulasi dalam plasma tinggi, hipotalamus tetap tidak berespons. Pada beberapa orang yang mengalami obesitas ditemukan kerusakan gen leptin, tetapi sebagian besar lainnya ditemukan konsentrasi leptin yang tinggi di dalam plasma. Pada keadaan ini, rantai umpan-balik setelah leptin pasti mengalami gangguan di suatu tempat. Berbagai kemungkinan kerusakan dinyatakan sebagai berikut:
– leptin tidak dapat lagi mengatasi sawar darah otak (kesalahan transsitosis?)
– Efek penghambatan leptin pada sekresi neuropeptida Y (NPY) di hipotalamus, yang merangsang asupan makanan dan menurunkan pemakaian energi terganggu
– Leptin tidak menyebabkan pelepasan alpha-melanocortin (melanocyte-stimulating hormon alpha-MSH) di hipotalamus yang bekerja melalui reseptor MCR-4 dan memiliki efek yang berlawanan dengan NPY

Baru-baru ini telah ditemukan “kerusakan reseptor leptin” homozigot pada tiga perempuan bersaudara yang sangat obes. Karena mereka tidak pernah mengalami pubertas, dan sekresi hormon somatotropin serta thyrotropin-releasing hormon berkurang sehingga diduga leptin juga berperan pada jalur pengaturan hormon lain.

Sekitar 90% kasus gangguan makan di alami oleh perempuan muda. Bulimia nervosa (serangan makan berlebihan yang dilanjutkan dengan memuntahkan makanan secara sengaja dan/atau dengan penyalahgunaan obat pencahar) lebih sering terjadi daripada anoreksia nervosa (keinginan sendiri menurunkan berat badan melalui diet yang sangat ketat). Gangguan makan ditandai oleh persepsi mengenai tubuh yang terganggu (pasien merasa tubuhnya “terlalu gemuk” meskipun ia memiliki berat badan normal atau dibawah normal) dan perilaku makan yang abnormal (hubungan antara pikiran mengenai dirinya dengan berat badan). Terdapat kecenderungan genetik (50% terkait pada kembar monozigot) tanpa diketahui defek genetik yang mendasarinya. Faktor psikologis juga memainkan peranan yang berarti, seperti interaksi dalam keluarga yang terganggu (overprotektif, penghindaran konflik, dan kekakuan) dan konflik seksual-pubertas serta pengaruh sosiokultural (kecantikan yang ideal, harapan sosial).

Gangguan makan pada anoreksia nervosa bervariasi, mulai dari akan dengan diet sangat ketat sampai benar-benar tidak mau makan, dan sering kali menyalahgunakan obat pencahar. Akibatnya, penurunan berat badan yang hebat sampai kaheksia sehingga memerlukan bantuan makanan tambahan lewat cairan infuse. Hal tersebut menyebabkan gangguan hormon-otonom yang berat, misalnya peningkatan kortisol dan penurunan pelepasan gonadotropin (amenore; pada aki-laki kehilangan libido dan impotent), bahkan hipotermia, bradikardia, kerontokan rambut, dll. Jika keadaan ini berlangsung lama, angka kematiannya dapat mencapai 20%.

Bulimia ditandai oleh serangan makan berlebihan yang dilanjutkan dengan memuntahkan makanan secara sengaja; dengan alasan agar berat badan yang normal dapat dipertahankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: