Zorro Khan

Anemia Akibat Gangguan Sintesis Hemoglobin (patofis)

In ILMU dasar medis!! on 05/07/2009 at 00:31

Eritrosit (Sel darah merah/SDM) berperan untuk mentranspor O2, CO2 dan juga sistem dapar. Hemoglobin (Hb) penting untuk keseluruhan fungsi tersebut. Hb terdiri atas 4 subunit (HbA terdiri atas 2alpha, 2betha) yang masing-masing terbentuk dari tiga komponen: protoporfirin, zat besi (Fe2) dan globin (alpha atau betha). Jika Fe2 bergabung dengan protoporfirin akan terbentuk heme. Jika terjadi defisiensi atau gangguan pada salah satu komponen, sintesis Hb akan terhambat. Pada keadaan ini, SDM berukuran kecil (MCV rendah) dan kadar Hb-nya berkurang (MCH rendah) (anemia mikrositik hipokrom).

Gangguan sintesis protoporfirin disebabkan oleh kelainan enzim yang diturunkan, misalnya anemia sideroblastik herediter (kelainan gen). Pada keadaan ini, pembentukan asam delta-aminolevulinat (delta-ALA) dari glisin dan suksinil KoA berkurang, demikian juga dengan sintesis heme. Heme menghambat delta-ALA sintase melalui jalur umpan-balik negatif. Jika konsentrasi heme sekarang dikurangi, enzim menjadi tidak terhambat, dan sekalipun terdapat kelainan, heme yang dibentuk masih dalam jumlah yang cukup. Kelainan pada enzim berikutnya akan menyebabkan peningkatan konsentrasi produk antara. Sementara kecepatan pembentukan heme ditingkatkan, metabolit ini dapat menyebabkan gangguan lain yang disebut porfiria

Gangguan sintesis globin: normalnya Hb dibentuk dari 2 rantai alpha dengan masing-masing mengandung 141 asam amino, dan 2 rantai betha yang mengandung 146 asam amino (HbA1= HbA alpha-2 betha-2). Hanya 2–3% Hb yang mengandung rantai delta dan bukannya rantai betha (Hb alpha-2 delta-2). Sebelum lahir, Hb yang terbentuk memiliki afinitas yang tinggi terhadap terhadap O2 (adaptasi terhadap PO2 yang rendah di plasenta). Hb janin ini (HbF) mengandung rantai gama (Hb alpha-2 gama-2) dan bukannya rantai betha.

Karakteristik Hb (kelarutan, afinitas terhadap O2, kemampuan mengoksidasi, dll) bergantung pada rangkaian asam amino tertentu. Namun, lebih dari 300 varian Hb yang ditentukan secara generik, sejauh ini tela diketahui tidak memiliki gangguan fungsi yang signifikan. Tetap pada sisi lain, “kesalahan” pada satu asam amino saja (rantai betha pada posisi ke-6 ditempati oleh valin dan bukannya glutamate= HbS) dapat menyebabkan gangguan fungsi yang sangat luas, seperti terlihat pada anemia sel sabit, yang disebabkan oleh kelainan gen homozigot. Dalam bentuk deoksigenasi, HbS beragregasi yang menyebabkan eritrosit menjadi berbentuk sabit. Bentuk sel sabit ini tidak dapat diubah kembali dan akan terperangkap di kapiler sehingga menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil. Agregasi HbS memerlukan waktu beberapa menit sehingga terutama akan mempengaruhi kapiler yang aliran darahnya lambat (limpa, vasa rekta medulla ginjal). Jika secara umum aliran darah melambat (syok) ayau terjadi hipoksia, kelainan dapat menyebar ke organ lain (misal, ke jantung). Penyumbatan pada pembuluh darah akan semakin memperlambat suplai darah ke daerah yang terkena dan PO2 akan terus menurun sehinggat terjadi lingkaran setan (krisis). Anemia sel sabit hampir hanya terjadi pada orang kulit hitam. Mereka atau para pendahulunya berasal dari daerah Afrika Tengah dengan prevalensi malaria yang tinggi. “Survival” kelainan gen pada 40% penduduk di Afrika Tengah dapat dijelaskan dengan fakta bahwa pembawa gen yang heterozigot memiliki perlindungan terhadap tipe malaria yang berbahaya (keuntungan selektif) meskipun kenyataannya sampai sekarang penyakit ini bersifat mematikan pada anak yang homozigot.

Pada thalasemia-betha, pembentukan rantai betha terbatas sehingga menyebabkan kekurangan HbA. Keadaan ini hanya dapat dikompensasi sebagian dengan meningkatkan pembentukan HbA2 dan HbF. Penggabungan Fe2 berkurang sehingga Fe2 tetap berada di dalam eritrosit (sideroakseria) dan dapat terakumulasi di dalam tubuh dalam jumlah yang besar (hemokromatosis sekunder). Meskipun resistensi osmotic SDM sebenarnya meningkat, secara mekanik kerentanan SDM justru meningkat (pemecahan yang cepat di limpa, hemolisis dini). Sementara tipe heterozigot (thalasemia minor) jarang menimbulkan gejala, tipe homozigot (thalasemia mayor) dapat menyebabkan kematian bahkan sebelum pubertas. Thalasemia-alpha termasuk kasus yang jarang terjadi. Keadaan tersebut biasanya menyebabkan kematian pada janin karena tanpa rantai-alpha, HbF juga tidak dapat terbetuk. Hb gama4 yang dibentuk pada masa janin, dan Hb betha4 yang muncul setelah lahir, tampaknya merupakan pengganti yang tidak memadai untuk membentuk Hb yang normal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: